Filsafat Ilmu Pertemuan Keempat (10 Oktober 2017)
Perkuliahan Filsafat Ilmu di kelas A Pascasarjana
Pendidikan Matematika untuk pertemuan keempat kali ini
sedikit berbeda dengan perkuliahan sebelumnya. Pada perkuliahan sebelumnya,
pembelajaran yang berlangsung adalah dengan metode diskusi dan tanya jawab
dengan posisi duduk mahasiswa adalah mengelilingi Bapak Prof. Marsigit,
sedangkan pertemuan kali ini adalah dengan menggunakan model ekspositori dengan
Prof. Marsigit menjelaskan pembelajaran dengan menggunakan spidol pada whiteboard.
Filsafat mempunyai awal dan akhir dan mengalami
perjalanan waktu yang kita sebut dengan timeline.
Kehidupan sekarang berada pada posisi di akhir, diibaratkan dengan ikan-ikan yang
ada di laut. Orang yang berfilsafat itu diibaratkan sedang mencari air yang
jernih dari aliran air dari awal zaman sampai akhir zaman, yaitu ilmu
pengetahuan. Pada zaman sekarang, filsafat itu adalah bahasa, karena
sebenar-benar hidup adalah bahasa. Maka timbul pertanyaan “siapa dirimu?”, maka
sebenar-benar dirimu adalah bahasamu, tulisanmu, dan kata-katamu. Oleh karena
itu gunakanlah bahasamu untuk menunjukkan siapa dirimu, dan janganlah sampai melakukan
plagiat, karena jika melakukan plagiat maka itulah dirimu, yaitu seorang
plagiat.
Filsafat memiliki dua perkara yaitu: (1) bagaimana
menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran dan (2) bagaimana saya mampu memahami
apa yang ada di luar pikiran. Namun sepanjang sejarah awal-akhir zaman,
ternyata tiada satupun orang yang berhasil menggapainya. Menurut Socrates bahwa
“sebenar-benar diriku tidak mengerti apapun”.
Pemikiran manusia di dalam filsafat digolongkan ke
dalam dua dunia yaitu dunia langit (spiritualisme) dan dunia kenyataan (realisme).
Beberapa sifat yang ada di dalam pikiran yaitu satu atau monoisme (kuasa Tuhan),
identitas berarti A=A, tidak terikat ruang dan waktu, idealisme (Platonisme), abstrak,
analitik (konsisten), true justification,
apriori (paham walau hanya melalui logika dan tidak perlu melihat langsung), logis,
skepticisme. Sedangkan beberapa sifat yang ada di luar pikiran atau kenyataan yaitu
pluralisme, kontradiksi A≠A maksudnya sebenar-benar diriku adalah tidak mampu
menunjuk siapa diriku karena diriku telah berubah dari tadi menjadi nanti sebab
filsafat terikat oleh ruang dan waktu, realisme (Aristotelianisme), konkret,
sintetik, tidak konsisten, aposteriori (paham setelah melihat, mengalami atau mendengar), empirisisme.
Matematika sebagai ilmu murni (matematika murni)
bersifat abstrak dan logis (dari definisi, aksioma, teorema 1, teorema 2, …).
Hal ini kontradiksi dengan kenyataannya, bahwa matematika siswa sebaiknya bersifat
konkret. Karena jika tidak, maka bisa mengakibatkan intuisi siswa menjadi rusak.
Misalkan jika siswa diajarkan matematika yang bersifat abstrak maka akan
mengurangi pengetahuan intuitif siswa tersebut. Di dalam filsafat, intuisi
meliputi apa yang ada dan yang mungkin ada terkait dengan ruang dan waktu. Dan
semua yang ada dalam hidup perlu adanya intuisi untuk membangun pengetahuan.
Berkenaan
dengan ilmu pengetahuan, Immanuel Kant menyimpulkan bahwa ilmu didapatkan
dengan cara sintetik a priori yaitu didapatkan dengan cara apriori (melalui
logika dengan melihat atau mengalami sesuatu) dan aposteriori (melalui pemahaman
setelah melihat atau mengalami sesuatu). Immanuel Kant menambahkan bahwa matematika
murni yang bersifat apriori belum cukup untuk disebut sebagai pengetahuan, karena
matematika untuk anak bersifat konkret dan aposteriori. Sehingga ilmu bagi anak
itu tidak ada, karena bagi mereka semua ilmu adalah aktivitas. Maka
sebenar-benar ilmu untuk anak adalah kegiatan.
Pada
perjalanan filsafat di abad ke-8 (kira-kira 1500 tahun lalu) terjadi abad gelap
dimana adanya Geosentris (kebenaran hanya oleh gereja. Setiap manusia tidak
boleh berilmu atau mengungkapkan kebenaran tanpa adanya restu dari gereja, dan
jika sampai terjadi hal demikian maka orang tersebut akan dikejar bahkan sampai
dibunuh. Kemudian geosentris dibantah oleh Heliosentris yang dikemukakan oleh
Copernicus, dimana bukan alam
semesta yang mengelilingi bumi, tetapi kebenarannya adalah mengelilingi
matahari. Sampai hingga sekarang semua ilmu pengetahuan yang dibuat mengikuti
kebenaran yang dibuat oleh Copernicus.
Selanjutnya
muncullah abad terang dimana pandangan rasionalisme dengan tokoh Rene Des
Cartes mengatakan tiada ilmu jika tiada rasio, sedangkan kenyataan dalam
filsafat yang berdasarkan kontradiksi menurut Immanuel Kant, selanjutnya melahirkan
empirisisme yang mengatakan tiada ilmu jika tiada pengalaman. Pada tahun 1671 (500
tahun lalu) terjadi abad modern dalam filsafat, hingga sampai saat ini disebut
dengan Post Modern. Pada tahun 1857 terjadi
Fenomena Auguste Comte. Auguste Comte adalah seorang tokoh penting dalam
filsafat positivisme. Dalam positivisme, ilmu pengetahuan didapat dari
fakta-fakta yang teramati, sehingga positivisme menolak metafisika dan
meletakkan agama di paling bawah. Sampai munculnya fenomena kontemporer atau
yang biasa disebut oleh Pak Marsigit sebagai Power Now. Dunia sekarang merupakan jendela dunia kontemporer
adalah teknologi yang ada sebagai hasil ilmu pengetahuan, seperti handphone yang ada sekarang kurang akan
nuansa agama, karena tradisional dijadikan sebagai agamanya. Hal ini menjadi
tantangan besar bagi negara kita terhadap positivisme yang masuk. Semakin
derasnya aliran yang masuk diharapkan Indonesia berpegang teguh dengan ideologi
bangsa yang menomorsatukan agama sebagai spiritualisme. Maka sebenar-benar
fenomena Auguste Comte adalah berada di dalam pribadi masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar