REFLEKSI
PAGELARAN WAYANG
Salmaini Safitri Syam / PPs PM A (17709251012)
Nilai
Etik dan Estetika Dibalik Pagelaran Wayang : Behind The Scene
Pada hari Kamis, 30
November 2017 saya bersama teman (dari kelas C) menyaksikan pagelaran wayang di Museum Sonobudoyo, Jogjakarta. dikarenakan suatu hal sehingga saya tidak bisa ikut serta menyaksikannya bersama teman-teman dari kelas A.
Sesampainya disana, kami membeli tiket dan duduk di tempat yang telah disediakan.
Pagelaran wayang menggunakan bahasa Jawa, karena background daerah yang berasal
dari luar Jawa menyebabkan saya sulit memahami apa yang diceritakan dari pagelaran
tersebut. Namun dengan diberikan sebuah leaflet tentang sinopsis dari cerita,
saya berusaha memahami alur ceritanya. Pada setiap pagelaran akan ditampilkan
cerita yang berbeda setiap malamnya. Pagelaran dimulai dari pkl. 20.00 WIB s/d
pkl. 22.00 WIB. Setiap malam menampilkan setiap episode yang berbeda-beda. Pada
malam itu, episode yang diceritakan adalah episode ke-6 tentang “The Death of
Prahasta”, yang menceritakan tentang gugurnya Prahasta. Diceritakan “Rama mengatakan kepada teman-temannya bahwa ia ingin
menundukkan Rahwana. Kepada Rama, Wibisana mengungkapkan rahasia Rahwana,
mengatakan bahwa itu berisi pedang sihir Mentawa. Sugriwa kemudian
memerintahkan Anila untuk mencuri pedang Rahwana. Prahasta
akhirnya gugur di tangan seorang perwira Wanara bernama Anila. Melalui
pertarungan sengit Anila berhasil menghancurkan tubuh Prahasta menggunakan
sebongkah batu karang yang sangat besar".
Dalam sudut pandang
filsafat, pagelaran wayang mengandung aksiologi. Aksiologi berisi etik (benar
dan salah) dan estetika (keindahan). Wayang memiliki nilai etik, memberikan
sebuah cerminan kehidupan manusia secara konkret. Pada hakikatnya, wayang dapat
memberikan gambaran lakon perihal kehidupan manusia dengan berbagai problematikanya,
wayang sebagai etalase nilai dengan makna dan simboliknya yang dapat dijadikan sumber ajaran kehidupan. Pergelaran wayang juga
merupakan proses instropeksi intuitif terhadap simbol-simbol yang digelar di
dalam pagelaran tersebut. Wayang dijadikan sebagai tontotan masyarakat yang
terkandung nilai-nilai leluhur yang sangat kental di dalamnya. Dengan demikian,
pagelaran wayang secara realitas dan simbolik tampil sebagai sebuah tontonan, tuntunan,
dan tatanan yang dapat menghibur serta menyampaikan ajaran sebagai referensi
kehidupan pribadi, maupun dalam bermasyarakat dan bernegara.
Semua nilai-nilai etik tadi
dikemas dalam keindahan seni dari pagelaran wayang, yang kita kenal dengan
estetika. Karena tidak hanya etik, wayang juga berkaitan erat dengan nilai
estetika di dalamnya. Melalui keindahan yang terpancarkan melalui aura gemerlap
dalam sajian pagelaran wayang, menjadi daya tarik yang kuat, sehingga menjadi
kesenangan maupun keindahan tersendiri bagi para penikmatnya, tidak hanya masyarakat
lokal namun juga masyarakat non-lokal. Panggung pagelaran wayang yang tampak
begitu megah, tampak terpampang jagat pagelaran tepat di depan dalang. Di samping
kiri dan kanan dalang berjejer tokoh-tokoh wayang yang tidak digunakan ketika pagelaran.
Di belakang tergelar instrument
gamelan wayang dengan tata letak yang tampak harmoni sesuai dengan fungsi dari
masing-masing alat tersebut. Tugas para penabuh sudah tertata dan teratur dengan
rapi sesuai dengan tugas peranan alat yang ditabuhnya. Dengan adanya lampu
(lighting) yang menyorot tokoh wayang yang dipegang oleh dalang dari balik
layar, menjadikan bayangan tokoh wayang memantul dari balik layar sehingga
penonton dapat menikmati dengan lebih jelas dan fokus kepada wajah karakter
dari tokoh wayang dan pakaiannya. Bentuk ukiran yang detail dari wayang
menambah poin estetika dari wayang itu sendiri. Selain itu untuk mendukung jalannya
alur cerita, penataan sound system baik dari suara dalang, sinden, maupun suara
lantunan gamelan yang ditabuh memiliki peranan masing-masing sehingga
menjadikan cerita lebih hidup. Unsur-unsur estetik inilah yang kesemuanya
merupakan bentuk tatanan pagelaran
wayang dengan kekuatan harmoni setiap unsur-unsur saling berpacu-padu dalam satu
kesatuan yang utuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar