Senin, 18 Desember 2017

Nilai Etik dan Estetika Dibalik Pagelaran Wayang : Behind The Scene


REFLEKSI PAGELARAN WAYANG
Salmaini Safitri Syam / PPs PM A (17709251012)

Nilai Etik dan Estetika Dibalik Pagelaran Wayang : Behind The Scene

Dalam filsafat terdapat tiga pilar yang dibahas, yaitu ontology, epistemology dan aksiologi. Ontology adalah hakikat atau makna dari sesuatu yang dipelajari, sedangkan epistemology adalah bagaimana cara atau metode yang digunakan untuk mempelajari hal tersebut. Sementara aksiologi adalah etik dan estetikanya. Dengan demikian, untuk mengenal lebih jauh dari aksiologi terhadap suatu fenomena yang ada, Pak Prof. Marsigit menugaskan kepada kami untuk menyaksikan pagelaran wayang, yang dinilai memiliki nilai etik dan estetika yang sudah terbungkus di dalamnya. Selain itu dengan melihat pagelaran wayang tersebut dapat dijadikan sebagai bentuk hermeneutika antara kami sebagai mahasiswa dari luar Jawa dengan budaya yang ada di Jawa.
Pada hari Kamis, 30 November 2017 saya bersama teman (dari kelas C) menyaksikan pagelaran wayang di Museum Sonobudoyo, Jogjakarta. dikarenakan suatu hal sehingga saya tidak bisa ikut serta menyaksikannya bersama teman-teman dari kelas A. Sesampainya disana, kami membeli tiket dan duduk di tempat yang telah disediakan. Pagelaran wayang menggunakan bahasa Jawa, karena background daerah yang berasal dari luar Jawa menyebabkan saya sulit memahami apa yang diceritakan dari pagelaran tersebut. Namun dengan diberikan sebuah leaflet tentang sinopsis dari cerita, saya berusaha memahami alur ceritanya. Pada setiap pagelaran akan ditampilkan cerita yang berbeda setiap malamnya. Pagelaran dimulai dari pkl. 20.00 WIB s/d pkl. 22.00 WIB. Setiap malam menampilkan setiap episode yang berbeda-beda. Pada malam itu, episode yang diceritakan adalah episode ke-6 tentang “The Death of Prahasta”, yang menceritakan tentang gugurnya Prahasta. Diceritakan “Rama mengatakan kepada teman-temannya bahwa ia ingin menundukkan Rahwana. Kepada Rama, Wibisana mengungkapkan rahasia Rahwana, mengatakan bahwa itu berisi pedang sihir Mentawa. Sugriwa kemudian memerintahkan Anila untuk mencuri pedang Rahwana. Prahasta akhirnya gugur di tangan seorang perwira Wanara bernama Anila. Melalui pertarungan sengit Anila berhasil menghancurkan tubuh Prahasta menggunakan sebongkah batu karang yang sangat besar".
Dalam sudut pandang filsafat, pagelaran wayang mengandung aksiologi. Aksiologi berisi etik (benar dan salah) dan estetika (keindahan). Wayang memiliki nilai etik, memberikan sebuah cerminan kehidupan manusia secara konkret. Pada hakikatnya, wayang dapat memberikan gambaran lakon perihal kehidupan manusia dengan berbagai problematikanya, wayang sebagai etalase nilai dengan makna dan simboliknya yang dapat dijadikan sumber   ajaran kehidupan. Pergelaran wayang juga merupakan proses instropeksi intuitif terhadap simbol-simbol yang digelar di dalam pagelaran tersebut. Wayang dijadikan sebagai tontotan masyarakat yang terkandung nilai-nilai leluhur yang sangat kental di dalamnya. Dengan demikian, pagelaran wayang secara realitas dan simbolik tampil sebagai sebuah tontonan, tuntunan, dan tatanan yang dapat menghibur serta menyampaikan ajaran sebagai referensi kehidupan pribadi, maupun dalam bermasyarakat dan bernegara.

Semua nilai-nilai etik tadi dikemas dalam keindahan seni dari pagelaran wayang, yang kita kenal dengan estetika. Karena tidak hanya etik, wayang juga berkaitan erat dengan nilai estetika di dalamnya. Melalui keindahan yang terpancarkan melalui aura gemerlap dalam sajian pagelaran wayang, menjadi daya tarik yang kuat, sehingga menjadi kesenangan maupun keindahan tersendiri bagi para penikmatnya, tidak hanya masyarakat lokal namun juga masyarakat non-lokal. Panggung pagelaran wayang yang tampak begitu megah, tampak terpampang jagat pagelaran tepat di depan dalang. Di samping kiri dan kanan dalang berjejer tokoh-tokoh wayang yang tidak digunakan ketika pagelaran. Di belakang tergelar instrument gamelan wayang dengan tata letak yang tampak harmoni sesuai dengan fungsi dari masing-masing alat tersebut. Tugas para penabuh sudah tertata dan teratur dengan rapi sesuai dengan tugas peranan alat yang ditabuhnya. Dengan adanya lampu (lighting) yang menyorot tokoh wayang yang dipegang oleh dalang dari balik layar, menjadikan bayangan tokoh wayang memantul dari balik layar sehingga penonton dapat menikmati dengan lebih jelas dan fokus kepada wajah karakter dari tokoh wayang dan pakaiannya. Bentuk ukiran yang detail dari wayang menambah poin estetika dari wayang itu sendiri. Selain itu untuk mendukung jalannya alur cerita, penataan sound system baik dari suara dalang, sinden, maupun suara lantunan gamelan yang ditabuh memiliki peranan masing-masing sehingga menjadikan cerita lebih hidup. Unsur-unsur estetik inilah yang kesemuanya merupakan bentuk tatanan pagelaran  wayang dengan kekuatan harmoni setiap unsur-unsur saling berpacu-padu dalam satu kesatuan yang utuh.





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REFLEKSI – 9 : Filsafat Spiritual "Nggege Mongso"

Filsafat Ilmu PM A PPs UNY   Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A Perkuliahan Filsafat Ilmu di kelas A Pascasarjana Pendidikan...