Filsafat Ilmu Pertemuan Kelima PM A PPs UNy
Dosen Pengampu : Prof. Dr.
Marsigit, M.A
Perkuliahan Filsafat
Ilmu di kelas A Pascasarjana Pendidikan Matematika untuk pertemuan kelima pada
hari Selasa, 17 Oktober 2017 pada pukul 15.30 WIB di lantai 1 Gedung Baru
Pascasarjana. Sama seperti perkuliahan sebelumnya, perkuliahan hari ini dimulai
dengan tes tanya jawab singkat dengan jumlah soal sebanyak 25 soal. Setelah
sesi tanya jawab singkat, seperti biasanya Bapak meminta kami untuk membuat
pertanyaan. Kemudian berdasarkan
pertanyaan dan jawaban tersebut dapat kita refleksikan bersama.
Sejak
zaman Aristoteles sudah ada pembagian kualitatif dan kuantitatif. Pembagian
kuantitaif terdiri dari unsur sedikit, beberapa, banyak, sebagian, seluruhnya.
Sedangkan pembagian kualitatif seperti ada unsur sebab akibat, hipotetikal, dan
seterusnya.
Dalam psikologi, istilah kanopi
berarti topeng. Manusia tidak akan bisa hidup jika tidak memakai topeng. Dan
semua manusia itu bertopeng. Semuanya pernah berbohong. Jika kamu membuka
topengmu maka kamu tidak bisa hidup. Oleh karena itu manusia adalah relatif dan
tidak ada yang sempurna. Kenapa bohong itu terjadi? Hal itu terkait dengan
perbatasan antara peradaban dengan kekuasaan. Semakin besar kekuasaan maka
semakin besar potensi untuk berbohong, misalkan orang tua yang keras kepada
anaknya maka anak tersebut akan berkemungkinan besar lebih banyak berbohong
kepada orang tuanya.
Pergi ataupun datang
adalah suatu gerakan menembus ruang dan waktu. Jika kita sudah bisa membuat
satu titik tertentu maka itu disebut dengan reduksi. Reduksi adalah
menghilangkan atau mengeliminasi sesuatu yang baik. Manusia memiliki intuisi
dua satu, adanya interaksi antara waktu lampau dan waktu sekarang. Ucapan yang
dikatakan jika belum selesai, maka tidak akan paham. Kita paham karna masih
punya ingatan, seperti ingatan mendengar, membaca, dst. Sehingga kita bisa
berkomunikasi karena mempunyai skema dan intuisi yang sama, sementara di dalam
fisika dikenal dengan sebutan frekuensi yang sama. Maka bingung pun merupakan
intuisi.
“Kalau misalnya mengalami reduksi dalam belajar apakah
dikatakan bahwa gagal dalam belajar atau memang sampai yang seperti itu?” Hidup di dalam
filsafat itu berdimensi. Di dalam filsafat tidak ada yang namanya gagal, namun
yang ada adalah tidak cocok ruang dan waktunya. Misalnya kamu bertanya
matematika SMP kepada siswa SD maka hal itu tidak cocok ruang dan waktunya. Maka kamu adalah ‘hantu’ atau ‘momok’, jadi
adanya persepsi atau pandangan yang salah terhadap matematika yang dianggap
sebagai momok. Padahal artinya bukan matematika sebagai pelajaran yang sulit
dan menjadi momok, namun orang yang membuat pelajaran matematika itulah sebenar-benarnya
momok. Agar tidak menjadi hantu maka satu-satunya yang mengendalikan diri
adalah doa. Sebenar-benar orang yang bijaksana dalam belajar filsafat adalah
cocok ruang dan waktu. Dan sebenar-benar mencari ilmu adalah menembus ruang dan
waktu. Maka timbul pertanyaan kapan dikatakan sesuatu menembus ruang dan waktu?
Salah satu caranya adalah dengan membaca elegi-elegi Bapak yang ada di blog
Beliau (powermathematics.blogspot.co.id), dengan membuat komentar-komentar demi usaha menembus ruang dan waktu
dalam belajar filsafat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar