Rabu, 20 Desember 2017

REFLEKSI - 5 : Menembus Ruang dan Waktu



Filsafat Ilmu Pertemuan Kelima PM A PPs UNy
 Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A




Perkuliahan Filsafat Ilmu di kelas A Pascasarjana Pendidikan Matematika untuk pertemuan kelima pada hari Selasa, 17 Oktober 2017 pada pukul 15.30 WIB di lantai 1 Gedung Baru Pascasarjana. Sama seperti perkuliahan sebelumnya, perkuliahan hari ini dimulai dengan tes tanya jawab singkat dengan jumlah soal sebanyak 25 soal. Setelah sesi tanya jawab singkat, seperti biasanya Bapak meminta kami untuk membuat pertanyaan. Kemudian berdasarkan pertanyaan dan jawaban tersebut dapat kita refleksikan bersama.
Sejak zaman Aristoteles sudah ada pembagian kualitatif dan kuantitatif. Pembagian kuantitaif terdiri dari unsur sedikit, beberapa, banyak, sebagian, seluruhnya. Sedangkan pembagian kualitatif seperti ada unsur sebab akibat, hipotetikal, dan seterusnya.
Dalam psikologi, istilah kanopi berarti topeng. Manusia tidak akan bisa hidup jika tidak memakai topeng. Dan semua manusia itu bertopeng. Semuanya pernah berbohong. Jika kamu membuka topengmu maka kamu tidak bisa hidup. Oleh karena itu manusia adalah relatif dan tidak ada yang sempurna. Kenapa bohong itu terjadi? Hal itu terkait dengan perbatasan antara peradaban dengan kekuasaan. Semakin besar kekuasaan maka semakin besar potensi untuk berbohong, misalkan orang tua yang keras kepada anaknya maka anak tersebut akan berkemungkinan besar lebih banyak berbohong kepada orang tuanya.
Pergi ataupun datang adalah suatu gerakan menembus ruang dan waktu. Jika kita sudah bisa membuat satu titik tertentu maka itu disebut dengan reduksi. Reduksi adalah menghilangkan atau mengeliminasi sesuatu yang baik. Manusia memiliki intuisi dua satu, adanya interaksi antara waktu lampau dan waktu sekarang. Ucapan yang dikatakan jika belum selesai, maka tidak akan paham. Kita paham karna masih punya ingatan, seperti ingatan mendengar, membaca, dst. Sehingga kita bisa berkomunikasi karena mempunyai skema dan intuisi yang sama, sementara di dalam fisika dikenal dengan sebutan frekuensi yang sama. Maka bingung pun merupakan intuisi. 
“Kalau misalnya mengalami reduksi dalam belajar apakah dikatakan bahwa gagal dalam belajar atau memang sampai yang seperti itu?” Hidup di dalam filsafat itu berdimensi. Di dalam filsafat tidak ada yang namanya gagal, namun yang ada adalah tidak cocok ruang dan waktunya. Misalnya kamu bertanya matematika SMP kepada siswa SD maka hal itu tidak cocok ruang dan waktunya.  Maka kamu adalah ‘hantu’ atau ‘momok’, jadi adanya persepsi atau pandangan yang salah terhadap matematika yang dianggap sebagai momok. Padahal artinya bukan matematika sebagai pelajaran yang sulit dan menjadi momok, namun orang yang membuat pelajaran matematika itulah sebenar-benarnya momok. Agar tidak menjadi hantu maka satu-satunya yang mengendalikan diri adalah doa. Sebenar-benar orang yang bijaksana dalam belajar filsafat adalah cocok ruang dan waktu. Dan sebenar-benar mencari ilmu adalah menembus ruang dan waktu. Maka timbul pertanyaan kapan dikatakan sesuatu menembus ruang dan waktu? Salah satu caranya adalah dengan membaca elegi-elegi Bapak yang ada di blog Beliau (powermathematics.blogspot.co.id), dengan membuat komentar-komentar demi usaha menembus ruang dan waktu dalam belajar filsafat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REFLEKSI – 9 : Filsafat Spiritual "Nggege Mongso"

Filsafat Ilmu PM A PPs UNY   Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A Perkuliahan Filsafat Ilmu di kelas A Pascasarjana Pendidikan...