Filsafat Ilmu PM A PPs UNY
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A
Perkuliahan Filsafat
Ilmu di kelas A Pascasarjana Pendidikan Matematika untuk pertemuan ke-8 pada
hari Selasa, 21 November 2017 pada pukul 15.30 WIB di lantai 1 Gedung Baru
Pascasarjana. Sama halnya dengan pertemuan ke-8, pada pertemuan ke-9 Bapak
menjelaskan tema yang sama yaitu Hermeneutika. Berbeda dengan perkuliahan pada
pertemuan-pertemuan sebelumnya, perkuliahan kali ini Bapak menggunakan metode
ceramah, alasannya agar perkuliahan yang dilaksanakan setiap pertemuan
bervariasi, guna menghindari kebosanan. Dengan mengangkat tema “Hermeneutika
Hidup”, Bapak memulai penyajian materi dengan menampilkan slide powerpoint,
yang sebelumnya sudah pernah Beliau tampilkan pada acara seminar internasional.
Hermeneutika, di
dalam bahasa Inggris adalah hermeneutics,
berasal dari kata Yunani hermeneutine dan hermeneia yang masing-masing berarti
“menafsirkan” dan
“penafsiran”. Istilah
ini didapat dari
sebuah risalah yang berjudul Peri Hermeneias (Tentang
Penafsiran). Hermeneutica juga bermuatan pandangan hidup dari
penggagasnya.
Berdasarkan gambar tentang
hermeneutika hidup karya Prof. Dr. Marsigit di atas terlihat bahwa
kehidupan yang kita jalani sekarang diilustrasikan berbentuk spiral. Artinya
hidup manusia akan terus berputar dan tidak pernah mengulangi hal yang sama
pada ruang dan waktu yang sama. Garis lurus menyiratkan bahwa kehidupan akan
terus maju, sedangkan garis melingkar menyiratkan kehidupan akan terus berulang.
Maka sebenar-benar hidup adalah adanya hermeneutika antara garis lurus dan
melingkar sehingga menghasilkan spiral.
Berdasarkan gambar di atas tersebut
terdiri dari dua aspek, yaitu teori dan praktik. Digambarkan bahwa praktik
terletak di bawah sedangkat teori terletak di atas. Maksudnya adalah manusia
hidup tidak bisa langsung mengenal teori, sebenarnya manusia hidup dimulai dengan
praktik. Anak kecil tidak mungkin diajarkan berjalan dengan menjelaskan tentang
teori berjalan. Mereka belajar melalui praktik yaitu dengan adanya bantuan
intuisi, bukan teori. Secara bertahap, sesuai dengan perkembangan usia dan cara
berpikir manusia, mereka akan mulai menyentuh teori. Semua itu berputar
membentuk spiral yang tak pernah putus. Maksudnya, kita memulai belajar dengan
praktik dan intuisi, lalu saat mencapai puncak pemahaman, kita menyentuh ranah
teori. Namun saat bertemu dengan hal baru, maka kita memulainya kembali dari
ranah praktek dan intuisi. Begitu seterusnya hingga akhir hidup manusia.
Dengan demikian hermeneutika
hidup merupakan bagaimana seseorang memiliki pandangan hidup. Kehidupan adalah
proses kontinu yang dialami seseorang. Dalam hidup seseorang akan menghadapi
berbagai persoalan. Maka berhermeneutikalah dengan hidup, terjemah,
menterjemahkan dan jalani. Setiap persoalan yang dijumpai maka direfleksikan
terus-menerus. Dengan demikian sebagai manusia yang selalu berusaha mengoreksi
diri dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan, akan menempatkan kita sesuai
ruang dan waktunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar